Penghakiman

Satu hal yang penting yang perlu anda pikirkan ketika bertindak adalah menetapkan tujuan dan target yang akan dicapai. Begitu juga ketika berbicara atau berdiskusi dengan orang lain, baik satu arah, dua arah. Bahkan untuk pembicaraan sederhana sekali pun. Akan aneh rasanya jika lawan bicara atau pembicara dalam diskusi melenceng dari topik diskusi yang sedang dibicarakan, atau hanya sekedar curcol tak jelas.

Tidak hanya tujuan dan target, perlu diperhatikan bahwa tidak ada premature judging. Bahkan dalam pengadilan saja ada pembelaan diri. Karena dalam hukum ada istilah pra duga tidak bersalah. Berilah kesempaatan pada lawan bicara untuk memberikan pendapatnya, membela pendapatnya. Dan coba dengarkan dengan persepsi bahwa apa yang dia katakan adalah hal yang bernar menurutnya. Kalau kita memandang bahwa apa yang dia katakan salah, percuma kita mendengar kata-katanya. Cobalah bersikap adil dalam menilai mana yang benar. Kalau anda dalam posisi dimana anda harus benar, coba pertimbangan dan hitung kembali apakah anda masih bisa membela pernyataan anda (dengan jalur yang tepat tentunya), kalau tidak ada menyerah dengan terhormat saja.

Hal ini perlu diperhatikan karena menurut saya tidak ada orang yang suka dihakimi dengan tidak jelas. Dimarahi atau berhadapan dengan troll. Kalau ingin mencari musuh memang ini adalah salah satu cara yang tepat. Entah karena alasan apapun, sering kali seseorang jadi ‘hakim muda’ kepada orang lain, bukan sekedar curiga tapi sudah menilai orang lain itu salah. Entah karena mengangap ia lebih tua, lebih tahu, atau karena ingin menjaga wibawa. Bukankah sudah banyak kisah jaman dulu yang mengisahkan bahwa generasi mudalah yang membawa perubahan pada dunia.

Mungkin kita perlu merubah mind-set kita kembali seperti anak-anak yang polos pada umumnya. Memandang dunia lebih indah dengan menganggap semua orang itu benar, semua cerita orang tua itu benar. Kita akan lebih mudah untuk berdiskusi tanpa perlu menegangkan urat syaraf. Setidaknya persepsi kita akan lebih mudah untuk menganggap "ada kemungkinnan orang ini benar". Mengapa kita begitu berbeda dengan anak-anak. Pengalaman kita menuntun kita untuk tidak percaya pada orang lain, arahan orang untuk tidak mudah percaya pada orang lain, atau contoh dari orang tua yang suka berbohong ketika si anak menemukan fakta yang berbeda. Akhirnya anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang selalu curiga pada orang lain.

Dan kalau pun ternyata salah (berlawanan dengan pendapat kita). tidak perlu menghakimi lawan anda. Sampaikanlah pendapat anda dengan tenang, tanpa nada tinggi, dengan senyuman (bukan senyuman yang merendahkan). Kebanyakan orang akan luluh ketika anda sampaikan jurus itu. bukan berarti dengan begitu lawan anda harus menerima pernyataan anda, dan bila tidak ia adalah orang keliru. Jika ia masih punya bantahan dengarlah, dan beri jawaban lagi sampai apa yang dibahas benar-benar jelas.

Tentu keadaanya akan berbeda ketika lawannya atasan atau orang tua yang tidak kenal diskusi. Teknisnya sebenarnya sama, dengar dan beri jawaban sesuai dengan kapasitas anda. Kalau tidak diberi kesempatan membela diri? Cukup tersenyum dengan penuh hormat, dan berpikir bahwa apa yang ia katakan ada kemungkinan benar. Bukan berarti kita menerima saja. Ketika ia selesai bicara, cobalah untuk memberi jawaban kalau memang ada yang perlu untuk anda bela. Karena tidak menutup kemungkinan apa yang ia katakan benar walau dalam term marah-marah.

Kalau lawannya adalah orang yang suka memaksakan pendapat. Ikuti kemauannya, dengarkan apa yang ingin sampaikan dan beri jawaban sesuai dengan kapasitas anda. Tipe seperti ini biasanya akan mencari kesalahan dari kata-kata anda, melebarkan masalah, dan jika sudah mendapat kelemahan anda ia akan ngotot pada masalah tersebut. Dan sebelum diskusi berakhir ia akan pergi meninggalkan diskusi.

Dalam tulisan kali ini saya tidak bermaksud memberi tips atau arahan. Hanya saja saya sedang dalam masa hanya bisa mengatakan "iya", "tidak", "tidak tahu". Saya punya keterbasan dalam memberi penjelasan dalam berdiskusi. setidaknya saya sedang menunggu kesempatan dalam memberi jawaban atas penghakiman ini.

Karena menunggu kesempatan itu merupakan strategi juga saudara. Karena kita tidak bisa hanya menerima tanpa bisa memberi jawaban. Dan apabila hanya disimpan dalam hati akan menganggu diskusi anda selanjutnya.

Dan setidaknya saya mendapat pelajaran bahwa ketika saya berdiskusi dengan orang lain, akan lebih berkenan bagi lawan saya jika ia diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, atau dalam kejadian lain agar mendapat kesempatan memberi jawaban atas tuduhan kepadanya.

0 Responses to “Penghakiman”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




About me

me

I am currently 25 years old. Some old post maybe not relevant to current situation, and will not be updated. you may look for comment section or ask me anything.

timeline

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

GALLERY

Eid Mubarak Illya
Eid Mubarak Illya
full size

Happy Birthday Miku

full size

Contact

aacom_jaksen@yahoo.com

bumikitta.wordpress.com

Arsip


%d blogger menyukai ini: